Labels

Thursday, 12 April 2018

polemik bantuan bencana angin

Rimbo Ulu, 12 April 2018. Namanya bencana tentu kita semua tidak pernah mengharapkan. Jangankan mengharapkan, menduga saja hampir tidak bisa. Apalagi bencana angin ribut yang tidak berkaitan dengan gejala di tanah. Berbeda dengan bencana banjir, gunung meletus, gempa bumi, wabah penyakit.


  1. Namun reaksi yang timbul setelah bencana terkadang bisa menimbulkan fikiran yang berbeda. Karena cara memandang masing-masing orang yang berbeda. Untuk bantuan di desa sukamaju dan sungai pandan beberapa waktu yang lalu menimbulkan polemik sebagai berikut:
  2. Terjadi pembagian yang tidak seimbang. Yang menjadi target adalah jalur lawu barat dan tidar. Kebiasaan pembagian bantuan di daerah ini adalah dibagi merata. Karena jika yang mengalami musibah berat saja, yang lain akan mencibir. Jalan tidar yang hanya kira-kira 40 kepala keluarga sementara lawu barat dua kali lipat. Akhirnya penduduk tidar mengalah tidak menerima bantuan.
  3. Bencana ini menimbulkan kerusakan rumah, dan ladang karet. Namun mengapa bantuannya sembako? Bukankah lebih tepat jika bantuannya bibit karet atau bibit sawit, atau seng.
  4. Bantuan yang diberikan tidak seberapa namun dihadiri oleh aparat beberapa desa dan kecamatan belasan mobil. Seingga tuan rumah agak kerepotan menjamu tamunya dan menyewakan tenda.
  5. Data keluarga yang mendapat musibah tergolong berat tidak dimiliki oleh pemerintah setempat. Sehingga bantuan yang diberikan sulit untuk tepat sasaran.

Semoga bermanfaat
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

No comments:

Post a Comment

Kembali ke atas