Label

Kamis, 08 Juni 2017

orang tua: bulan puasa rawan seks remaja

Rimbo Bujang, 08 Juni 2017. Apabila kita membaca hadits berikut:
Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 1899. Muslim, no. 1079, dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu,  sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ
“Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu ditutup dan setan-setan dibelenggu”. (sumber)
Maka akan tenang fikiran kita terutama para orang tua akan semakin kusyu' dan berkonsentrasi dalam tekun beribadah.
Namun apabila kita membaca syair yang ditulis oleh Ronggo Warsito berikut:
amenangi zaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada.

yang terjemahannya sebagai berikut:

menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (gila),
tidak akan mendapat bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada. (sumber)
Apabila dibandingkan kedudukannya pasti hadits Rosulullah yang benar. Namun apabila kita bercermin pada sejarah, ternyata di bulan ramadhan justru banyak terjadi kasus perselingkuhan dan seks bebas terutama pada remaja.
Dalam hal ini, penulis mengkaji secara analitik, sebab hal-hal berikut:

  1. Masa remaja terutama SMP, merupakan gejolak sex terkuat karena baru pengenalan pertama terhadap nafsu.
  2. Bulan ramadhan orang tua yang sudah mendidik anaknya sejak kecil sedang berkonsentrasi dalam ibadah. Mulai dari tarawih, tadarus, subuh ke masjid karena pahalanya 10 kali lipat.
  3. Pacaran oleh remaja di bulan ramadhan dilakukan di malam hari, karena siang hari  puasa (pura-pura) takut batal. Karena siang harinya badan lemas, jangankan menegakkan nafsu, menegakkan tulang punggung aja lemas.
  4. Ada beberapa alasan untuk lepas dari pengawasan orang tua: (1) Alasan pergi tadarus pulang jam 10 malam (jam 22). Padahal berboncengan berduaan ke tempat sepi. (2) Alasan buka bersama, pulang diantar cowoknya. Kebetulan sampai rumah orang tuanya dan tetangga masih tarawih. Sehingga ada kesempatan berduaan. (3) Alasan subuh berjamaan ke masjid padahal pulangnya mampir sambil maraton berdua.
  5. Pada bulan ramadhan, setan, genderuwo, kuntilanak, jurig, leak semuanya dibelenggu. Sehingga berpacaran di tempat sepi tidak perlu takut.

Memang mengenai masalah cinta dua insan ini merupakan hal yang pelik. Terlalu dini sudah menikah, apalagi ketika selisih lahirnya anak yang pertama tidak ada 9 bulan dengan hari pernikahan juga akan menjadi pembicaraan orang.  Namun apabila terlalu ketat, hingga terlambat menikah juga menjadi aib bagi orang tua.
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas