Label

Kamis, 05 November 2015

cara membedakan hujan asli atau buatan

Rimbo Bujang, 05 November 2015. Memasuki bulan yang namanya memiliki huruf akhir "-ber" diyakini oleh banyak orang bahwa pada bulan tersebut sudah tinggi curah hujannya. Sebab suaranya seperti suara air hujan yang jatuh dengan derasnya. Namun pada tahun 2015 ini setelah memasuki bulan november barulah disambut dengan hujan rintik dan agak deras.
Sebenarnya hal yang tidak perlu dipermasalahkan, namun teman-teman banyak yang berdebat mengenai hujan yang telah turun. Ada tiga pendapat:
  1. Hujan buatan, karena tadi sore diberitakan di TVRI jambi. Setiap hari siaran TVRI untuk daerah jambi termasuk yang melalui satelite digital receiver FTA pukul 16:00 sampai 18:00 diisi dengan siaran TVRI jambi.
  2. Hujan alami, karena airnya tidak ada rasa asinnya. Konon hujan buatan dibuat dengan menaburkan puluhan ton garam ke awan untuk mempercepat kondensasi yang dibawa dengan pesawat terbang.
  3. Hujan alami yang merupakan jawaban atas do'a kami dalam sholat istisqo kemarin.
Agar debat tersebut terjawab dengan jelas, marilah kita bahas secara analitik.
A. Bagaimana hujan buatan terjadi?
Sejarah Hujan buatan di dunia dimulai pada tahun 1946 oleh penemunya Vincent Schaefer dan Irving Langmuir, dilanjutkan setahun kemudian 1947 oleh Bernard Vonnegut.

Yang sebenarnya dilakukan oleh manusia adalah menciptakan peluang hujan dan “mempercepat” terjadinya hujan. Nama yang digunakan sebagai upaya “membuat hujan” adalah menjadi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)
Di Sekolah kamu tentu tahu tentang proses terjadinya hujan kan? Yaitu dikenal dengan siklus hidrologi, ada penguapan air, pembentukan awan, dan turun menjadi hujan.

Nah yang dilakukan oleh manusia pada TMC, adalah “mempengaruhi” proses yang terjadi di awan sebagai “dapur” pembuat hujan. Sehingga mempercepat peluang terjadinya hujan.

Bahan untuk “mempengaruhi” proses yang terjadi di awan terdiri dari dua jenis yaitu

  1. Bahan untuk “membentuk” es, dikenal dengan glasiogenik, berupa Perak Iodida (AgI)
  2. Bahan untuk “menggabungkan” butir-butir air di awan, dikenal dengan higroskopis, berupa garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl), atau CaCl2 dan Urea.
 Bahan-bahan ini “disebar” dengan bantuan Pesawat terbang, Roket, dan disebar dari daerah tinggi (misal : puncak gunung). Penyebaran bahan “bibit hujan” tadi, harus memperhatikan kondisi yang akurat tentang arah angin, kelembaban dan tekanan udara, peluang terjadinya awan. Kerap terjadi, bahan-bahan yang sudah “disebar” tadi tidak menghasilkan hujan, justru “hilang” begitu saja.
Di Indonesia, upaya “hujan buatan” ini diperlukan untuk :
  1. Antisipasi Ketersediaan Air, misal pengisian waduk, danau, untuk keperluan air bersih, irigasi, pembangkit listrik (PLTA)
  2. Antisipasi Kebakaran hutan/lahan, kabut asap
 Nah jika hujan tiba, dapatkah kamu menduga-duga, apakah ini hasil “hujan buatan” atau bukan ?. Oh ya kualitas air “hujan buatan” tidak terlalu berbeda dengan “hujan asli” lho, kamu tidak perlu khuatir air hujan nya berasa “asin” atau berbau.
sumber
B. Tanda alam
Setelah kita mengetahui terjadinya hujan buatan, maka maka kita bisa menidetifikasi ciri-ciri hujan buatan sebagai berikut:
  1. Hujan buatan dibuat oleh manusia dengan manaburkan bahan-bahan ke awan, bahan tersebut dibawa dengan pesawat terbang. Jadi harus ada suara pesawat terbang sebelum hujan turun. Jika kabut asap tebal, apakah pesawat berani terbang?
  2. Hujan alami biasanya disertai dengan mendung tebal, angin kencang, petir dan guruh.
  3. Sholat istisqo terkadang tidak langsung dikabulkan, karena do'anya terhambat oleh dosa-dosa masyarakat setempat. Sebagaimana dalam sejarah nabi musa dan bani israil.
C. Apakah yang dapat memicu dan lebih cepat turun hujan dan apa yang menghambat?
  1. Adanya panas matahari yang terik menghasilkan penguapan (evaporation) yang banyak.
  2. Adanya proses kondensasi atau pendinginan uap air yang dapat dilihat dengan awan warna hitam, menjadi butiran air.
  3. Uap air tersebut tidak dibawa ke tempat lain oleh angin. Jika dibawa maka hujan untuk daerah tersebut batal meski sudah ditaburkan garam dengan maksud untuk memadamkan kebakaran hutan atau mengisi waduk.
  4. Membaca istighfar yang banyak dapat memacu turunya hujan, sebagaimana diterangkan dalam Al Qur'an.
  5. Menempatkan baskom berisi air garam di halaman tidak dapat memancing turunya hujan. Jika dibilang mempercepat penguapan, maka air laut lebih banyak.
  6. Melaksanakan sholat istisqo' dapat mempercepat turunnya hujan.
  7. Menyombongkan diri (kibr) atau sok pinter, sok ulama daerahnya paling manjur do'anya, atau sok masyarakat daerahnya paling sedikit dosanya dapat menghambat datangnya hujan.
Semoga bermanfaat
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas