Label

Kamis, 30 Juli 2015

mengapa buaya sungai alai mengganas


Rimbo Ulu, 30 Juli 2015. Belakangan ini beberapa warga rimbo mengaku banyak penampakan buaya di sungai sekitarnya. Salah satunya di sungai alai seperti diberitakan oleh jambi update.
Pembaca tentu tidak ingin hal-hal yang paling ditakutkan terjadi. Yaitu terjadinya korban jiwa manusia oleh keganasan buaya. Dalam artikel ini penulis akan membahas bagaiman cara pencegahanya.
  1. Buaya mengganas karena habitatnya diganggu, sebagaimana diberitakan oleh tribunnews.
  2. Buaya marah menyerang warga karena telurnya dan atau anaknya diambil oleh manusia. Sekitar tahun 1993 ada tetangga penulis yang mengaku pernah disatroni / didatangi se-gerombolan buaya ke pondok/ gubuknya di tengah ladang yang di tepi sungai. Karena orang tersebut menculik anak buaya dan mengambil telurnya. Konon pendengaran dan penciuman buaya tajam. Hingga bisa mengetahui lokasi anaknya.
  3. Buaya mengganas karena musim kawin sebagaimana diberitakan oleh jpnn. Jika hanya kawin biasa mungkin dia tidak akan marah. Tapi sebab kemarahannya dikarenakan ketika sedang kawin diintip tetangganya yang berwujud manusia.
  4. Buaya mengganas karena dipuji dan dinyanyikan. Khusus sebab ini merupakan versi fiksi yang diinspirasi penulis dari lirik lagu pengiring senam tebo yang dalam kurun waktu setahun terahir marak di putar di seluruh penjuru tebo.
Lirik lagu senam tebo yang berjudul TUNGGUL BUTO adalah sebagai berikut:

Sungai alai, tunggul buto.
adanyo di kabupaten tebo.
memang aneh, tapi nyato.
tak picayo coba buktikan sajo.

sungai alai, banyak buayonyo.
yang mau makan manusio.
kanti-kanti yang hobinyari ikan.
hati-hati jangan jadi korbannyo.

Sungai alai, bilo musim banjir.
air deras melintasi jalan.
jangan cubo-cubomelewatinyo.
biso-biso kanti kagi celako.
 
Sungai alai, tunggul buto.
adanyo di kabupaten tebo.
memang aneh, tapi nyato.
tak picayo coba buktikan sajo.

Reff:
        Tunggol buto...
Tungol kayu yang ajaib katonyo.
orang bilang, ado kerajaan selain dari manusio.

Orang pintar banyak mendatanginyo.
tuk menyuji kesaktiannyo.
kanti-kanti bagi orang biaso.
jangan cubo-cubo ke sano.
bio-biso kanti kagi tadamam.
tujuh hari, tujuh malam.

Sejak awal, kito bajumpo.
paras wajahnyo tak dapat ku lupo.
dan tabayang di kelopak mato.
sungguhlah cantek, luar biaso.

Pendiam itu urangnyo.
lemah lembut tutur, bahasonyo.
itu dio, gadis dari tebo.
yang membuat, aku jatuh cinto.

Reff ke-2:
       Macam mano, iko macam mano.
raso cinto, membaro di dado.
macam mano, iko macam mano.
makin lamo, rindu merasuk jiwo.

Macam mano, iko macam mano.
sgalo cari, aku telah beupayo.
agar cinto, kito biso bersamo.
macam mano, iko macam mano.

Tak di sangko, tak didugo.
kini kito biso bajumpo.
kalulah jodoh, tidak ke mano.

Betapa tidak itu menjadi sebuah mitos? Lirik lagu itu telah menyatu dengan jiwa masyarakat tebo.
  1. Pagi diputar di sekolah sebagai senam dalam program olah raga pekanan maupun pelajaran olah raga.
  2. Sore ibu-ibu berlatih bersama karena ada pull up yaitu diadakannya lomba.
  3. sore anak anak bersama kedua orang tuanya senam bersama dalam jadwal olah raga keluarga.

Semoga bermanfaat.
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas