Label

Sabtu, 26 Juli 2014

idul fitri 2014 di tengah krisis



Dari fenomena di lapangan, khusunya daerah kabupaten tebo dan sekitarnya pada lebaran tahun ini diperkirakan akan mengalami paceklik alias musim kekurangan. Fenomena tersebut adalah:

  1. Harga karet murah, diiringi dengan musim gugur daun karet dan daun semi.
  2. Dua minggu terakhir bulan ramadhan tidak turun hujan. walau di tanah jawa banyak turun hujan
  3. Seperti hari-hari besar lainnya akan diadakan penurunan harga getah karet dan sawit, untuk menggulangi penyusutan karena ditimbun sampai sesudah lebaran dan memberikan THR (tunjangan hari raya) kepada karyawan.
  4. Efek dari pilpres (pemilihan presiden) yang sepertinya akan terjadi kericuhan karena banyaknya pelanggaran yang terjadi di lapangan (baca). Hal ini bisa memperburuk citra bangsa di mata internasional. Selain itu juga kelancaran transportasi dan distribusi bahan bakar minyak yang kabarnya akan dinaikkan oleh capres terpilih jokowi-jk (baca).

Mengenai harga barang khusunya sembako di pasar kemungkinan akan melonjak. Apalagi hujan yang tidak turun menyebabkan tanaman sayuran menjadi kekeringan, Begitu juga dengan cabe. Diperkirakan kebutuhan sayur cukup tinggi karena merupakan makanan berserat untuk mengimbangi makanan yang serba daging dan serba berminyak yang begitu melimpah menghiasi hari lebaran.
Harga daging juga kemungkinan akan melonjak, apalagi dipersulitnya impor daging dengan diseretnya lutfi hasan. Pihak yang menyeret tidak pernah berinterospeksi diri. Bahwa memang indonesia butuh impor daging. Sehingga efeknya ditanggung seluruh rakyat.
Harga karet diperkirakan untuk cor bersih akan turun pada Rp 6.000,- per kilogram. Sedangkan untuk kretek bersih akan turun pada Rp 6.500,- per kilogram. Untuk lelang diperkirakan tertinggi akan mencapai Rp 7.500,- per kilogram. Sementara itu untuk sawit diperkirakan akan turun Rp 900,- perkilogram.
selain itu harga kebutuhan pokok akan meningkat. harga daging sapi diperkirakan mencapai Rp 100.000,- per kilogram, sedangkan ayam kampung akan mencapai Rp 65.000,- per kilogram.
Masyarakat yang menyadari akan krisis ini tentu akan menghemat.

Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas