Label

Rabu, 31 Juli 2013

belanja idul fitri efesien

Setelah keuangan mungkin babak belur saat waktu yang berimpitan antara liburan sekolah, periode ajaran baru dan Ramadhan yang sedang kita jalani, maka keuangan saat lebaran perlu pula dijaga agar tak menimbulkan kondisi defisit yang mengganggu kebutuhan-kebutuhan keluarga setelahnya. Apalagi Idul Fitri 1434H jatuh di awal bulan sesaat setelah gajian diterima : keluarga harus bisa mempertahankan nafas keuangannya hingga akhir bulan, terutama bagi karyawan.
Sebelum kita bahas langkah menjaga stabilitas keuangan keluarga pasca-lebaran, ada beberapa poin yang perlu kita renungkan ulang terkait Ramadhan dan penyikapan kita terhadap pola belanja dan budaya mudik yang mungkin sudah bertahun kita jalani.
  1. Ramadhan digunakan sebagian besar umat Islam untuk ‘menghabiskan’, bukan menambah penghasilan. Kendati tetap harus menjaga kualitas dan kuantitas ibadahnya, konsumsi yang membesar masyarakat sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk melatih wirausaha dan menambah penghasilan. Ada beberapa jenis produk yang otomatis meningkat permintaannya saat Ramadhan yaitu kebutuhan pokok, pakaian dan makanan siap santap. Untuk mendapatkan keuntungan maksimal, seleksi dan pembelian bahan pokoknya sebaiknya dilakukan agak jauh sebelum Ramadhan (ketika harga belum merangkak naik) dan penjualan bisa menggunakan sarana non permanen seperti bazaar dan pasar kaget di perkantoran dan perumahan.
  2. Ramadhan sejatinya adalah bulan menahan pengeluaran untuk kebutuhan-kebutuhan seperti makanan dan hiburan karena itulah esensi perilaku yang justru dilatih di dalamnya : hidup hemat, secukupunya, efisien, fungsional dan sederhana. Fakta yang terjadi adalah sebaliknya. Kecuali untuk pos pengeluaran sosial (seperti zakat, sedekah dan berbagi buka puasa dengan orang kurang mampu), maka Ramadhan seharusnya melatih minimalisasi pengeluaran.
  3. Budaya mudik secara ekonomis bermakna penyebaran uang dan transfer aktivitas ekonomi ke daerah non kota besar. Di sisi lain, bagi pemudik adalah pemborosan dan melalaikan dari aktivitas akhir Ramadhan (bagi Muslim). Waktu tempuh yang panjang yang disebabkan kemacetan, godaan untuk belanja berlebihan sebelum dan saat
perjalanan benar-benar merupakan ujian bagi kantong. Mungkin perlu dipikirkan ulang untuk mengubah jadual mudik menjadi pra-Ramadhan atau saat libur panjang yang lain. Nah, sekarang bagaimana langkah untuk menjaga stabilitas keuangan pasca lebaran? Berikut ini tiga tipsnya :
  1. Mempersiapkan anggaran jauh hari dan angka pengeluaran dengan tegas dibatasi. Lebaran adalah festival tahunan yang sudah bisa diketahui polanya setiap tahun. Pengeluaran bisa diprediksi sehingga baiknya mulai ditabung beberapa bulan sebelumnya. Jika menggunakan kendaraan umum pun (seperti pesawat dan kereta), pemesanan sudah. Sesuaikan rencana mudik dengan anggaran, dan bukan sebaliknya.
  2. Manfaatkan THR (Tunjangan Hari Raya) bagi karyawan untuk mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok (yang selalu terjadi saat Ramadhan) dan untuk menambah keberkahan harta dengan cara memperbesar porsi dana sosial. Bukan untuk disiapkan untuk habis-habisan saat lebaran. Beberapa perusahaan bahkan membagikan THR di awal Ramadhan, karena jauh lebih bermanfaat bagi karyawannya untuk mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok sebulan penuh.
  3. Memilih cara paling efisien dan moda transportasi terhemat dari sisi waktu dan biaya. Jika dua keluarga menuju lokasi yang sama dan kendaraan masih cukup lapang kenapa perlu membawa kendaraan masing-masing? Atau jika situasi lalu lintas cukup lapang jika mudik lebaran lebih awal, mengapa tak disepakati bersama keluarga? Dengan cara ini konsumsi BBM lebih hemat, tiba di kampung halaman lebih awal sehingga keluarga bisa kembali fokus mengejar ibadah-ibadah utama di akhir Ramadhan
sumber
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas